Utama | Akademiik | Artikel & Penelitian | MENGELOLA SUMBER DAYA LAHAN/TANAH

MENGELOLA SUMBER DAYA LAHAN/TANAH

image

Kerusakan tanah atau lahan disebabkan oleh erosi dan akibatnya terjadi sedimentasi. Erosi tanah atau pengikisan merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin, baik yang berlangsung secara alamiah maupun sebagai akibat tindakan manusia...

MENGELOLA SUMBER DAYA LAHAN/TANAH

Dr. Syafiuddin Saleh, M.Si*

 

Tanah merupakan bagian yangs angat penting dari lingkungan hidup. Tanah merupakan salah satu sumber kehidupan manusia. Peranan tanah sangat penting dalam menjaga kualitas udara, air, dan bahan makanan bagi tumbuihan. Tanah terbentuk  dari proses pelapukan fisik dan kimia terhadap bahan induk tanah yang dipengaruhi faktor pendukung lain seperti iklim, organisme, topografi, dan waktu. Berdasarkan tingakatan lapisan tanah dibedakan dengan:

(1)         horizon A (Top Soil) = lapisan yang telah mengalami pelapukan sepenuhnya. Umumnya ketebalan  sekitar 30 cm, terdiri atas bahan organik yang disebut humus;

(2)         horison B (sub Soil) = lapisan yang baru mengalami pelapukan;

(3)         horison C (Regolit) = bahan induk tanah yang baru sedikit mengalami pelapukan.

 

Tanah sesuai dengan penggunaannya disebut lahan seperti lahan sawah, lahan perkebunan, lahan pemukiman, lahan hutan, dan sebagainya.

 

Tekstur tanah adalah suatu keadaan yang menunjukkan sifat halus atau kasarnya butiran tanah. Ukuran halus dan kasarnya ditentukan oleh perbandingan kandungan pasir, debu, liat, dan lempung. Tekstur tanah menentukan tata air dalam tanah yaitu kecepatan resapan (infiltrasi), penetrasi, dan kemampua pengikatan air oleh tanah. Tanah yang bertekstur halus akan menyerap air sangat lambat sehingga curah hujan yang cukup rendah akan menimbulkan aliran permukaan. Sedangkan struktur tanah adalah gumpalan bagian fisik tanah yang meruapakan susunan agregat partikel tanah (pasir, debu, liat) menjadi partikel yang satu sama lain berbeda dalam ukuran, warna, dan bentuknya.

 

Tipe struktur tanah yang biasa dikenal terdiri ats lempung, gumpal, kersai, pilar, dan tiang. Bentuk kewilayahan lahan disebut topografi. Topografi dapat dibedakan:

(1)         datar/ agak datar dengan kelerengan 0-8%;

(2)          landai dengan kelerengan 8-15%;

(3)         Miring, bergelombang, dan bergunung-gunung 15-25%;

(4)         Curam dengan kelerengan 25-45%;

(5)         Sangat curam atau terjal dengan kelerengan >45%.

 

Kerusakan tanah atau lahan disebabkan oleg erosi dan akibatnya terjadi sedimentasi. Erosi tanah atau pengikisan merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angina, baik yang berlangsung secara alamiah maupun sebagai akibat tindakan manusia. Erosi dapat dibagi:

(1)         Erosi Normal (geological erosion) yakni erosi yang terjadi secara normal atau alamiah. Erosi ini tidak menimbulkan musibah yang hebat bagi kehidupan manusia dan keseimbangan alam atau lingkungan.

(2)          Erosi Dipercepat (accelerated erosion) yakni proses erosi dipercepat akaibat tindakan atau perbuatan manusia yang negative atau kesalahan dalam pengelolaan pertanian/ penggunaan tanah. Erosi ini banyak menimbulkan malapetaka karena menimbulkan kerusakan lingkunagn, kerugian karena banjir, kekeringan dan berkurangnya produktifitas tanah.

Beberapa jenis kerusakan yang disebabkan oleh erosi adalah:

(1)         Tanah akan kehilangan unsuru hara dan bahan organik

(2)         Penghancuran agrogat dan pelepasan partikel-partikel tanah dari massa tanah;

(3)         Degradasi sumber daya tanah dan lahan;

(4)         Penjenuhan tanah dan air;

(5)         Kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman menjadi berkurang.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya erosi adalah :

(a)         faktor iklim;

(b)         faktor tanah;

(c)         faktor topografi;

(d)         faktor tanaman penutup tanah (vegetasi); dan

(e)         faktor perlakuan/ kegiatan manusia.

 

Sedimentasi adalah pengendapan-pengendapan butir-butir tanah akibat erosi yang telah dihanyutkan atau terangkut pada tempat-tempat yang lebih rendah seperti sungai, danau atau waduk. Sedimentasi menimbulkan pendangkalan dan penciutan aliran sungai dan danau.

 

Pada dasarnya, rehabilitasi dan onservasi tanah dilakukan agar tanah tidak mengalami erosi sehingga tanah tidak rusak. Usaha konservasi tanah dilakukan dengan tujuan/ strategi sebagai berikut :

1.            Mengurang besarnya energi perusak (air hujan dan air permukaan) dengan jalan menutup lahan dengan vegetasi;

2.            Meningkatkan ketahan agregat tanah terhadap pukulan air hujan, kikisan, dan limpasan dengan penambahan bahan organik atau bahan kimia;

3.            Mengurangi atau mengatur kecepatan aliran permukaan sehingga tidak merusak tanah, melainkan meningkatkan kapasitas peresapan (infiltrasi) air ke dalam tanah.

 

Ada dua metode/ cara populer yang digunakan dalam melakukan konservasi tanah, yakni :

1.            Metode vegetatif

Ada beberapa cara yang biasa digunakan dalam metode ini, antara lain :

-          penanaman tanaman penutup tanah yakni tanaman yang sengaja ditanam untuk melindungi tanah dari erosi dan aliran permukaan; selain dapat menambah bahan organik guna menambah produktifitas tanah;

-          penanaman strip adalah suatu cara penanaman jenis tanaman tertentu dalam bentuk strip berdasarkan garis kontur atau memotong lereng;

-          penanaman berganda adalah system penanaman dengan cara menggunakan beberapa jenis tanaman yang ditanam secara bersamaan (tumpang sari), disisipkan secara beruntun, dan bergilir dua (2) atau lebih jenis tanaman (tumpang gilir) pada sebidang tanah.

 

Keuntungan cara ini adalah :

-          tana akan selalu tertutup oleh vegetasi;

-          pengolahan tanah dapat dikurangi;

-          dapat menekan populasi hama dan penyakit tanaman;

-          dapat mengurangi pengangguran musim;

-          intensitas penggunaan lahan semakin tinggi;

-          tanah tidak kehilangan unsure hara.

 

-     penghutanan kembali adalah kegiatan memulihkan dan menghutankan kembali tanah-tanah yang telah gundul sehingga fungsi-fungsi hutan dapat dipenuhi kembali baik unyuk kepentingan produksi kayu, pengaturan tata air, maupun untuk kepentingan social budaya.

 

2.            Metode Mekanik

Konservasi tanah dengan metode mekanik bertujuan:

-          memperkecil aliran permukaan sehingga mengalir dengan kekuatan yang tidak merusak tanah;

-          memperbaiki dan memperbesar proses infiltrasi air ke dalam tanah;

-          menampung dan menyalurkan aliran permukaan;

-          dapat menjadi pengatur cadangan air bagi tanaman.

 

Kegiatan yang dilakukan dala konservasi tanah dengan metode mekanik, yakni:

a.      Pengaturan system pengolahan tanah, yakni kegiatan manipulasi mekanik terhadap tanah dengan tujuan menciptakan kondisi tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Pengolahan tanah bias menguntungkan karena sisa-sisa tanaman dapat terbenam tetapi juga merugikan karena tanah semakin mudah tererosi. Guna memperkecil kerusakan tanah maka pengolahannya harus diatur, seperti berikut :

-          tanah diolah seperlunya;

-          pengolahan tanah dilakukan pada saat kandungan air yang tepat;

-          dilakukan sejajar dengan garis kontur;

-          hendaknya diikuti dengan pemberian mulsa.

 

b.      Pembuatan teras, dimaksudkan untuk mengurangi atau memperkecil aliran permukaan  dan memberi kesempatan air untuk meresap (infiltrasi). Pembuatan teras dibedakan:

-          teras datar, yakni teras yang dibuat pada kelerengan sekitar 3% dengan cara membuat tanggul yang diberi saluran baik di atas maupun di bawahnya;

-          teras kredit, teras yang dibuat apada tanah dengan kemiringan 3-10% dengan tujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah. Teras dibuat dengan penguat gulu dan sejajar garis kontur dan ditanami vegetasi seperti gamal, lamtoro, dan kaliandra;

-          teras pematang, dibuat pada tanah dengan kemiringan 10% samapi 40% dengan tujuan mencegah kehilangan lapisan atas tanah, sejajar dengan kontur, berjajar dari atas ke bawah, jika tanah berstruktur lepas dan memiliki daya serap air yang tinggi;

-          teras bangku, biasanya dibuat pada tanah dengan kemiringan lereng 10% sampai 30% guna mencegah hilangnya lapisan tanah akibat erosi.

 

c.      Pembuatan bendungan pengendali (check dam), waduk kecil dibuat pada lahan dengan kelerengan <30% dengan tujuan untuk menampung aliran sediment akibat erosi. Kegunaan lainnya adalah:

-          dapat menyediakan air selama musim kemarau; terutama di daerah yang tandus;

-          dapat memperluas areal sawah dengan meningkatkan fungsi saluran pembagi menjadi saluran irigasi, terutama selama musim hujan;

-          sebagai sarana perikanan darat;

-          dapat dijadikan objek wisata.

 

Sumber Bahan:

Asdak, Ch., 2007: Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Penerbit: Gajah Mada University Press.

 

Dixon, JA, D.E James, PB Sherman, 1989. The Economics Dryland Management. Australian: East West Center.

 

Easter K.W. Dixon, JA. Hucshmidt, M.M. 1986. Watershed Resources Management; an Integrated Framework with Studies from Asi and Pacific; London: West view Press.

 

Irwan, Z.D. 2007. Prinsip-Prinsip Ekologi, Ekosistem Lingkungan dan Pelestariannya. Jakarta: Penerbit PT. Bumi Aksara.

 

Kartasapoetra, A.G. 2005. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Jakarta: Penerbit PT. Rineka Cipta.

 

Syarief, S. 1984. Konservasi Tanah dan Air. Bandung: Penerbit Pustaka Buana.

 

  *Penulis: Dosen Fakultas Pertanian Unismuh Makassar. Artikel ini dapat dibaca pula pada Koran Kampus Unismuh Makassar “Al-Amien” edisi No. 19 tahun-III, Mei 2009.

Komentar (0 posted):

Berikan Komentar Anda comment
Masukkan Kode yang Tertera pada Gambar:
  • email Email ke teman
  • print Versi Cetak
  • Plain text Halaman Teks
Tag
No tags for this article
Berikan nilai artikel ini
1.00
Teknologi web mobile ini didesain oleh 2009 ©