Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia di Unismuh Dihadiri Seribuan Peserta

Seribuan peserta yang terdiri atas guru dari berbagai sekolah, serta dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, mengikuti Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia dalam rangka Bulan Bahasa, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Sabtu, 28 Oktober 2017.

Tiga pemateri utama ditampilkan pada seminar tersebut, yaitu Pakar Sastra Lisan dan Budaya dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Setya Yuwana Sudikan (Revitalisasi Peran Sastra Lisan sebagai Media Pembelajaran untuk Menanamkan Nilai-nilai Karakter), Pakar Linguistik/Wakil Rektor II Unismuh Dr Andi Sukri Syamsuri (Guru, Generasi Z, dan Pembelajaran Abad 21), serta Dosen Universitas Negeri Jakarta Dr Abdul Hadi Djamal (Berpikir Out of The Box).

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar, Erwin Akib SPd MPd PhD, mengatakan, selain ketiga pemateri tersebut, juga ada 40 pemakalah paralel dari berbagai perguruan tinggi, antara lain dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan Universitas Negeri Makassar (UNM).

Acara seminar yang mengusung tema Mengukuhkan Peran Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai Pemersatu NKRI, juga dirangkaikan peluncuran buku kumpulan puisi tentang KH Djamaluddin Amien berjudul Mendung Tirakat.

Ide seminar bahasa ini muncul dari teman-teman dosen bahasa yang menginisiasi untuk menyemarakkan Bulan Bahasa sekaligus hari Sumpah Pemuda, kata Erwin Akib.

Sastra Lisan
Prof Setya Yuwana Sudikan dalam makalahnya mengatakan, sastra lisan yaitu sastra yang disampaikan dari mulut ke telinga, ke mulut, ke telinga, dan seterusnya. Ciri-ciri pengenal sastra antara lain penyebarannya melalui mulut, lahir di dalam masyarakat yang masih bercorak desa (masyarakat di luar kota, masyarakat yang belum mengenal huruf, menggambarkan ciri-ciri budaya suatu masyarakat).

Ciri lainnya yaitu tidak diketahui siapa pengarangnya dan karena itu menjadi milik masyarakat, bercorak puitis, teratur, dan berulang-ulang, tidak mementingkan fakta dan kebenaran, lebih menekankan pada aspek khayalan atau fantasi yang tidak diterima oleh masyarakat modern, tetapi sastra lisan memiliki fungsi penting di dalam masyarakat, terdiri atas berbagai versi, serta menggunakan gaya bahasa lisan sehari-hari mengandung dialek, dan kadang-kadang diucapkan tidak lengkap, papar Setya Yuwana.

Dalam kesusastraan Makassar, katanya, dikenal tiga cara penyampaian pikiran dan perasaan, yakni dalam bentuk proses, puisi, dan di tengah-tengahnya adalah bentuk prosa lirik.

Yang termasuk dalam bentuk proses ialah rupama atau dongeng, pau-pau atau cerita, serta patturioloang atau silsilah orang dahulu. Yang termasuk dalam puisi yaitu doangang atau mantra, pakkiok bunting atau pemanggil penganting, dondo atau puisi untuk anak kecil, aru atau ikrar setia, serta kelong atau puisi dan nyanyian, sementara yang termasuk dalam proses lirik yaitu royong dan sinrilik.

Sastra lisan tersebut digunakan pada upacara-upacara adat, misalnya pada upacara kelahiran, khitanan, pesta perkawinan, upacara pelamaran, hendak memulai sesuatu pekerjaan, misalnya naik rumah baru, turun ke sawah, melaut, atau pun pada upacara pelantikan, serta sebagai hiburan pada waktu senggang, kata Setya Yuwana.

Seiring perjalanan waktu serta pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, katanya, sastra lisan yang ada pada Suku Makassar pun mengalami proses pengasingan.

Pada saat ini, penyampaian sinrilik sudah sangat jarang dilakukan, begitu juga dengan pasinrilik atau orang yang membawakan sinrilik semakin berkurang jumlahnya, bahkan anak-anak muda ada yang sudah tidak mengetahui lagi apa sinrilik itu, sementara regenerasi pasinrilik dapat dikatakan tidak berlangsung lagi, papar Setya Yuwana.

Tradisi lisan atau sastra lisan, tambahnya, dapat dijadikan alternatif sumber belajar, materi ajar, atau media pembelajaran pendidikan karakter bangsa. Eksistensi tradisi lisan, yang hidup segan mati tak mau perlu direvitalisasi untuk pelestarian dan pengembangannya.

Dalam tradisi lisan, tersimpan kearifan lokal yang memiliki fungsi sosial bagi masyarakat pendukungnya. Kearifan lokal tersebut memiliki kontribusi yang berarti bagi pendidikan karakter bangsa bagi anak didik di sekolah, dari fase bayi sampai fase dewasa, tutur Setya Yuwana. (win/hh/ar)

Keterangan gambar:
SEMINAR BAHASA. Dari kiri ke kanan, Dr Andi Sukri Syamsuri, Dr Abdul Hadi Djamal, Erwin Akib SPd MPd PhD, serta Prof Setya Yuwana Sudikan, pada Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia dalam rangka Bulan Bahasa, di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Sabtu, 28 Oktober 2017. (Foto: Asnawin)

Berita Populer


Guru dari Papua, Maluku, dan NTB Ikut PLPG di Unismuh
11:48 WITA, 14 November 2017
dibaca 73 kali


Orang Bugis-Makassar Punya Modal Sosial Hadapi MEA
18:38 WITA, 17 Oktober 2017
dibaca 129 kali

Prodi Bahasa Inggris Unismuh Songsong Akreditasi A
14:43 WITA, 17 Oktober 2017
dibaca 200 kali

Unismuh Tawarkan Kerjasama LPCR Muhammadiyah
16:01 WITA, 09 Oktober 2017
dibaca 130 kali




Unismuh Bangun Masjid Besar Tiga Lantai
10:48 WITA, 27 September 2017
dibaca 346 kali

Mempersiapkan Generasi Emas 2045
17:00 WITA, 25 September 2017
dibaca 229 kali